Klunting… klunting … klunting …
Terdengar
ada BBM masuk. Sejam lalu, handphone
produk cina tersebut tak berbunyi. Entah, angin dari mana tiba – tiba terdengar
khas nada dering yang tak asing tiap hari. Tangan yang lekang tadi secepat
kilat menyambar Hp tersebut yang berada di meja. Dibukanya dengan penasaran.
Mungkin
kamu adalah kisahku. Dalam perjalanan waktu yang aku, kau buru dengan
harapanmu. Kau menjelma menjadi kembara. Kau kah itu? Kembara yang dulu pernah
singgah. Dan pertama untuk dapat mengenalku. Oh, iya… Ternyata benar. Kau,
Kembara itu. Kau pula kembara yang tiap saat, menyuguhkan syair untukku. Kata –
kata indah yang kau ambil dari surga, terangkai sahdu. Namun sayang, waktu
telah menundukkanmu. Dan perlu kau tahu, nantinya diperjalanan hidupmu tak ada
aku. Karna bukan takdirmu untuk memilikiku.
Sungguh
kesalahan apa yang telah Aku dapati pada saat itu. Tak ku sangka rembulan yang
bersinar terang padam seketika. Taburan bintang buyar berlarian dan menghilang.
Seakaan gelap gulita tanpa penerangan sedikit pun. Tuhan entah ke mana? Cuma
Aku sendiri dengan nestapa.
“
Dasar Kau, fuck !!! “ , teriakku.
“
Sudahlah. Jangan kau sesali yang tlah terjadi, mungkin ia benar.” Batinku
meredam amarah yang membuncah.
“
Kau tak mengerti !”
(melempar
kursi)
Glontiang… pyarrr …
“
Heh… apa-apan kau ini !” Tanya ibuku.
Pergi,
tanpa menghiraukan perkataan orang tuaku. Dosa atau tidak, tak peduli dipikiran
yang lagi berkecamuk.
Semua
telah pergi. Malam yang tadinya girang, kini murung. Hadirnya angin ku hiraukan
begitu saja tanpa dirasakan. Langit terlihat runtuh dan jatuh menimpaku.
Biarkan ! tak peduli ku mati atau hidup. Rasanya hidup ini pengap. Oksigen tlah
habis oleh kekecewaan.
Ade
kini membuang muka, tinggal masam. Mulanya manis dengan senyum yang khas tipis.
Kejadian itu yang ada dalam BBM membuatnya terpukul. Ia tak lagi riang.
Kesedihanya yang membuatnya seperti itu. Apalagi dirinya juga belum usai dengan
cerita masa silam. Cerita masa silam bukan ia yang di tinggal pergi. Melainkan
dirinya sendiri yang memilih pergi. Dan didapati, bahwa wanita masa lalunya
sudah ingin bersinggah kepelaminan. Tidak bisa dibayangkan perasaanya saat itu.
Tuhan memang adil, yang dulu pernah memberi rasa sakit. Sekarang dirinya
diberikan rasa itu.
Klunting… klunting… klunting …
(Diacuhkannya)
Beberapa
kali nada dering berbunyi, masih tetap tak peduli. Enggan untuk dibaca.
“
Apa yang kamu pikirkan? Sendirian di teras sambil memandang langit.”
(bengong)
“Heh…!!!”
teriak orang berkulit hitam.
“
Sialan loe…! Apa yang kamu inginkan, untuk datang kemari?”
“
Idihhhh… marah, sewot amat loe.”
Pulo
sahabat sejatinya, dibentak keras. Ia pun terdiam. Tanpa ada sepatah kata dari
mulut Pulo yang keluar. Sepertinnya, Ade sudah kesurupan. Di dalam tubuhnya
kayak ada binatang buas, yang kapan pun siap menerkam. Mata yang penuh
kebencian dihadangkan ke muka Pulo. Keringat dingin pun keluar. Membayangkan
berdiri di depan singa lapar. Lari ke mana pun tetap mati. Seperti sudah
ditakdirkan untuk mati dimakan singa lapar.
“Kawan, sabar.”
“ Sabar gimana lagi, Pul!”
“ ingat… La Tahzan Innallaha Ma’ana.”
“ Aku tahu itu.”
“lalu…!”
“ Disaat seperti ini aku tidak bisa
berfikir sehat. Sepertinya Tuhan membiarkan ku”
“Asstagfirullahaladzim.
Jangan seperti itu kawan, Tuhan tak akan pergi kemana. Dia bersama kita.”
Mendengar
yang dikatakan sahabatnya. Aku masih belum bisa lepas dari kesedihan. Fikiran
yang masih berkecamuk. Di dalamnya yang penuh dengan beban dan tekanan. Di tambah
masa silam dan pesan BBM yang membuat hati gundah. Tapi, apa yang dikatakan
Pulo memang cukup benar, tidak mungkin seperti ini terus. Karena Tuhan punya
banyak jalan. Dan tidak mungkin diriku ditelantarkan.
Kadang memang masalah itu perlu
Namun, dalam setiap masalah tidak
harus diurai dengan perselisihan
Karna Tuhan ada
Tidak akan lari ke mana
Ia ada bersama kita, tepatnya dalam
hati
Omah
cilik 07102014
so swiiiiit, cap cus
BalasHapushahahaha... gmna mnurut u had?
BalasHapusLebeeeh cik guuu
BalasHapus