perjalanan diriku

PERJALANAN DIRIKU

Setapak demi setapak aku berjalan

Arah ke arah aku telusuri

Tahun, bulan, minggu, hari

Terus aku cari

Jiwaku yang pergi

Tak kunjung kembali

Ntah bagaimana ku harus dapatkan kembali

Meskipun kerikil slalu saja menghadang

Tapi raga ini tetap tegar

Ntuk cari jiwaku yang hilang

Tuhan

Kenapa kau diam

Saat perjalananku

Ketika angin menghentikanku

Engkau sangaja membiarkan diriku

Tersesat dalam duniaMu

Tapi aku kan tetap berpegang dalam taliMu

Saat perjalanan mencari jiwaku

Medoho 04012011

Senin, 06 Oktober 2014

Berkecamuk



Klunting… klunting … klunting …

Terdengar ada BBM masuk.  Sejam lalu, handphone produk cina tersebut tak berbunyi. Entah, angin dari mana tiba – tiba terdengar khas nada dering yang tak asing tiap hari. Tangan yang lekang tadi secepat kilat menyambar Hp tersebut yang berada di meja. Dibukanya dengan penasaran.

 Mungkin kamu adalah kisahku. Dalam perjalanan waktu yang aku, kau buru dengan harapanmu. Kau menjelma menjadi kembara. Kau kah itu? Kembara yang dulu pernah singgah. Dan pertama untuk dapat mengenalku. Oh, iya… Ternyata benar. Kau, Kembara itu. Kau pula kembara yang tiap saat, menyuguhkan syair untukku. Kata – kata indah yang kau ambil dari surga, terangkai sahdu. Namun sayang, waktu telah menundukkanmu. Dan perlu kau tahu, nantinya diperjalanan hidupmu tak ada aku. Karna bukan takdirmu untuk memilikiku.

Sungguh kesalahan apa yang telah Aku dapati pada saat itu. Tak ku sangka rembulan yang bersinar terang padam seketika. Taburan bintang buyar berlarian dan menghilang. Seakaan gelap gulita tanpa penerangan sedikit pun. Tuhan entah ke mana? Cuma Aku sendiri dengan nestapa.

“ Dasar Kau, fuck !!! “ , teriakku.
“ Sudahlah. Jangan kau sesali yang tlah terjadi, mungkin ia benar.” Batinku meredam amarah yang membuncah.
“ Kau tak mengerti !” 
(melempar kursi)
Glontiang… pyarrr …
“ Heh… apa-apan kau ini !” Tanya ibuku.

Pergi, tanpa menghiraukan perkataan orang tuaku. Dosa atau tidak, tak peduli dipikiran yang lagi berkecamuk.
Semua telah pergi. Malam yang tadinya girang, kini murung. Hadirnya angin ku hiraukan begitu saja tanpa dirasakan. Langit terlihat runtuh dan jatuh menimpaku. Biarkan ! tak peduli ku mati atau hidup. Rasanya hidup ini pengap. Oksigen tlah habis oleh kekecewaan.
Ade kini membuang muka, tinggal masam. Mulanya manis dengan senyum yang khas tipis. Kejadian itu yang ada dalam BBM membuatnya terpukul. Ia tak lagi riang. Kesedihanya yang membuatnya seperti itu. Apalagi dirinya juga belum usai dengan cerita masa silam. Cerita masa silam bukan ia yang di tinggal pergi. Melainkan dirinya sendiri yang memilih pergi. Dan didapati, bahwa wanita masa lalunya sudah ingin bersinggah kepelaminan. Tidak bisa dibayangkan perasaanya saat itu. Tuhan memang adil, yang dulu pernah memberi rasa sakit. Sekarang dirinya diberikan rasa itu.

Klunting… klunting… klunting …

(Diacuhkannya)
Beberapa kali nada dering berbunyi, masih tetap tak peduli. Enggan untuk dibaca.
“ Apa yang kamu pikirkan? Sendirian di teras sambil memandang langit.”
(bengong)
“Heh…!!!” teriak orang berkulit hitam.
“ Sialan loe…! Apa yang kamu inginkan, untuk datang kemari?”
“ Idihhhh… marah, sewot amat loe.”
Pulo sahabat sejatinya, dibentak keras. Ia pun terdiam. Tanpa ada sepatah kata dari mulut Pulo yang keluar. Sepertinnya, Ade sudah kesurupan. Di dalam tubuhnya kayak ada binatang buas, yang kapan pun siap menerkam. Mata yang penuh kebencian dihadangkan ke muka Pulo. Keringat dingin pun keluar. Membayangkan berdiri di depan singa lapar. Lari ke mana pun tetap mati. Seperti sudah ditakdirkan untuk mati dimakan singa lapar.
            “Kawan, sabar.”
            “ Sabar gimana lagi, Pul!”
            “ ingat… La Tahzan Innallaha Ma’ana.”
            “ Aku tahu itu.”
            “lalu…!”
            “ Disaat seperti ini aku tidak bisa berfikir sehat. Sepertinya Tuhan membiarkan ku”
            Asstagfirullahaladzim. Jangan seperti itu kawan, Tuhan tak akan pergi kemana. Dia bersama kita.
Mendengar yang dikatakan sahabatnya. Aku masih belum bisa lepas dari kesedihan. Fikiran yang masih berkecamuk. Di dalamnya yang penuh dengan beban dan tekanan. Di tambah masa silam dan pesan BBM yang membuat hati gundah. Tapi, apa yang dikatakan Pulo memang cukup benar, tidak mungkin seperti ini terus. Karena Tuhan punya banyak jalan. Dan tidak mungkin diriku ditelantarkan.

Kadang memang masalah itu perlu
Namun, dalam setiap masalah tidak harus diurai dengan perselisihan
Karna Tuhan ada
Tidak akan lari ke mana
Ia ada bersama kita, tepatnya dalam hati
Omah cilik 07102014     

3 komentar: