perjalanan diriku

PERJALANAN DIRIKU

Setapak demi setapak aku berjalan

Arah ke arah aku telusuri

Tahun, bulan, minggu, hari

Terus aku cari

Jiwaku yang pergi

Tak kunjung kembali

Ntah bagaimana ku harus dapatkan kembali

Meskipun kerikil slalu saja menghadang

Tapi raga ini tetap tegar

Ntuk cari jiwaku yang hilang

Tuhan

Kenapa kau diam

Saat perjalananku

Ketika angin menghentikanku

Engkau sangaja membiarkan diriku

Tersesat dalam duniaMu

Tapi aku kan tetap berpegang dalam taliMu

Saat perjalanan mencari jiwaku

Medoho 04012011

Senin, 13 Oktober 2014

3 PENJURU SURGA



Perempuan…
Kemuliaan yang perlu dijaga
Bertahtakan mahkota surga
Jiwa yang bening, sebening embun pagi
Kelembutan hati yang dimiliki mampu meneduhkan lelaki
Begitulah kaum perempuan yang Tuhan berikan.  Setiap mata telanjang lelaki tidak bisa berhenti untuk memandang. Sungguh karya seni yang indah. Membayangkan saja hati merasa nyaman. Apalagi nanti kalau sudah memiliki. Seniman mana yang dapat meciptakan keindahan berupa perempuan. Tidak ada yang bisa ! kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa.
Keindahan surga memang belum bisa dibayangkan. Tidak semua makhluk yang sempurna seperti manusia mampu melihat keindahan surga. Butuh proses panjang untuk sampai pada tujuan yang tidak lain adalah surga. Proses itu, butuh keimanan yang mana sudah tergaris dalam Al Qur’an dan hadist . Manusia harus tau itu ! karena tatanan kehidupan sudah tercatat gamplang di dalam situ.
Selama ini, aku hanya mengenal dunia agama. Dan kini aku telah kembali ke rumah. Bukan alasan aku gak betah di pesantren. Justru selama menempa ilmu di Pondok, aku jadi banyak tahu kehidupan perempuaan menurut pandangan agama.  Aku kembali pulang karena alasan sudah rampung. Untuk itulah orang tuaku menyuruhku pulang. Alhamdulillah  sedikit banyak bekal ilmu yang aku dapatkan dari ustadzah-ustadzah di pesantren. Dengan bekal ilmu ini lah harapan orang tuaku, agar aku mampu menjaga diriku sendiri. Karena perempuan dalam islam adalah kemuliaan dari surga. Atau sebagian keindahan surga yang ada di dunia dan perlu untuk dijaga.  Dan aku ingat, salah satu ustadzah pernah berpesan kepadaku, “anakku, kelak setelah pulang. Jagalah, apa yang kamu miliki dari dalam dirimu dengan agamamu. Itu bukan harta ataukah kecantikan, melainkan hati dan iman.” Dan pula aku teringat ustadzah Halimah. Ketika itu beliau berkata , “ anak-anakku, wanita sekarang tidak lagi keindahan surga. Dia sudah lupa, dengan apa yang perlu dihiasinya. Makanya, perempuan sekarang bukan keindahan surga, cuma keindahan dunia belaka.”  Dari deretan pesan-pesan ustadzah, aku merasa beruntung bisa menjadi salah satu hiasan surga.
Melihat suasana rumah yang cukup lama aku tinggal, terasa asing lingkungan sekitar. Sewaktu di pesantren, aku melihat santri-santri mondar mandir membawa kitab mengaji. Dan sekarang cuma ibu-ibu pada belanja, ataupun sekilas  ada remaja yang bergandengan tangan.  Melihat semua itu, aku jadi teringat sahabatku,namanya Riani,  yang telah lama tidak bertemu. Dulu kami berpisah setelah lulus dari Madrasah Aliyah atau sederajat dengan SMA.  Waktu itu, sahabatku bilang kalau dirinya kuliah di perguruan tinggi yang ternama. Mungkin saat ini dia masih dibangko perkuliahan. Jadi kangen rasanya.
Aku masih duduk didipan yang letaknya di beranda depan rumah, tepatnya bawah pohon mangga. Aku tak sendiri didipan mungil ini, karena ditemani roti dan kopi kesukaan ku waktu masih kecil dulu. Duduk dan masih melihat suasana depan rumah, sambil mengingat-ingat masa lalu sebelum ke pesantren. Ternyata, didipan itu banyak kenangan aku dan sahabatku. Yang masih teringat saat itu, sahabatku menangis karena diputus kekasihnya. Rasanya geli sendiri mengingat kejadian tersebut. Setelah duduk dan menjelajahi masa silamku didipan. Aku putuskan berkunjung kerumah sahabatku. Mungkin Riani ada di rumah dan belum berangkat kuliah. Semoga saja! Bergegas aku masuk rumah ganti baju dan bersalaman dengan ibu,kebiasaan di pondok kalau bertemu orang yang dihormati selalu cium tangan. Minta izin ibu untuk pergi berkunjung ke rumah temanku.
Sepeda buntut yang ada di gudang aku pungut kembali.  “sudah lama aku tidak bawa sepeda ini”, pikirku. Karena lama aku tinggal sepeda tersebut, sampai  berkarat dan banyak sarang laba-laba. Orang tuaku tidak sempat merawat sepedaku, sebab faktor kesibukan. Aku gayuh pelan-pelan sepeda butut, dan akhirnya tiba di rumah Riani. Memang jarak rumahku dengan Riani tidak cukup jauh, kurang lebih satu kilometer. Perasaan dag dig dug terasa kencang. Mungkin ini efek dari rasa rinduku.  
“Assalamualaikum”
Keluar gadis berambut panjang, tubuh ramping, cuma berpakaian singlet dan celana pendek. “walaikumsalam”
Pikirku,” inikah yang dimaksud ustadzah. Gadis modern yang hanya mementingkan penampilan.”
Riani bengong melihatku. Hanya menatap tanpa berkedip sedikitpun. Pikiranya lagi berputar-putar mencoba mengingatku. Akhirnya selama kurang lebih lima menit, ia mengingat namaku. “ Alifah…?” meski nampak ada keraguan dipikiranya.
“iya, ini aku Rin. Alifah sahabat kamu.”
“waduh, penampilan mu berubah Fah.  Sekarang kamu tertutup semua, cuma mukamu saja yang masih terlihat. Bikin pangling” , dengan heran dia mengatakan itu semua.
“gak gitu juga Rin. Aku masih Alifah yang dulu. Bedanya iya cuma penampilanku ini saja “, sambil tersenyum memandang Riani. Lanjut aku bertanya, “eh, kamu gak malu apa dengan pakaian kayak gitu? Kamu kan perempuan Rin.” Dengan enteng dia menjawab, “idiiihhh, ngapain harus malu Fah. Inikan trend zaman sekarang. Justru penampilan kayak kamu gini yang nantinya buat aku malu.” Mendengar jawaban dari sahabatku, aku diam sebentar.  Berfikir bagaimana sahabatku ini tidak terjerumus dalam kemaksiatan. “Rin, bukannya aku cerewet. Sebagai sesama muslim aku wajib mengingatkan. Bahwa sebaik-baiknya perempuan adalah yang mau menutup aurat dan menjaga kehormatanya. Wanita dimata agama itu mulia. Untuk itu, jaga kemulianmu. Jika nanti kalau kau menginginkan surga.” Riani cuma diam. Mungkin perkataanku membuatnya berfikir. Tapi, aku belum melihat wajah yang ingin berubah. Sekali lagi, aku tambahi untuk menyakinkan ia berubah, “ jika kamu tidak ingin celaka dan terjerumus kemaksiatan. Lakukan dari hal sederhana menutup auratmu. Laki-laki akan melihatmu karena imanmu bukan nafsu. Dan apabila kamu terbuka, lelaki emang banyak yang suka. Tapi sukanya masih tanda Tanya. Dia memang bener suka kamu ataukah bener-bener suka karena nafsu ingin tubuhmu? Naudzubillah mindaliq, jangan sampai kehormatanmu terenggut. “  Dan aku pun teringat Kyai pondok pesantrenku bilang, “ mudah kalau wanita inginkan surga, pertama bila belum menikah jaga auratmu dengan menutupnya dari kaum adam yang belum mahrom. Dan kedua bila sudah menikah jaga kehormatanmu dari laki-laki selain suamimu bila di luar rumah. Dan ikuti perintah suamimu tanpa melawan.”  Dibenakku mengatakan,” itulah  penjuru surga bagi wanita.” Aku lihat Riani mulai resah dengan perkataan yang telah ku lontarkan tadi. Lama kelamaan dia pun berbicara, “ Alifah, apalagi yang kau dapatkan di pondok, selain menutup aurat?”
Aku menjawab dengan tersenyum, “ banyak, Rin.  Tapi, sebelum aku pulang, ada salah satu ustadzah yang aku sayangi. Dia bilang tentang tiga penjuru surga yang mudah dilakukan, tapi memang jarang orang melaksanakan. Diantaranya, wanita yang mau menjaga auratnya dengan menutupi pakaian seperti yang sudah ditetapkan dalam Al Qur’an dan Hadist, dan wanita yang mau menjaga kehormatan untuk suami serta mengikuti perintah suami. Lalu, kita sebagai anak, patuh terhadap orang tua terutama ibu. Karena ia adalah jembatan menuju surga. Ridlo Tuhan bergantung ridlo ibu.”
“kau pandai, Alifah. Memang selama ini banyak laki-laki melirikku bukan karena aku. Melainkan tubuhku yang telanjang ini”, menengadah ke langit. “ aku pun merasa sering membangkang oran tuaku” , lanjutnya. Dan ia bertanya lagi, “ berarti kalau perempuan menutup semua auratnya tidak akan tampil trendy  di masa kini?”
“di mata Allah bukanlah penampilan. Melainkan takaran iman yang dimiliki hambanya. Dan trendy  kan tidak harus membuka, banyak cara lain untuk menampilkan keindahan.”
Ustadzahku memang benar, kalau wanita akan lebih mudah tergoda apabila ia tak mampu menjaga mutiara dalam hatinya. Dan mutiara akan mahal harganya apabila bercahaya.
Surga sudah dulu tersedia
Tinggal dari mana kita melangkah untuk sampai pada surga
 Kebodohan kita yang menjadikan buta
Tidak tau mana benar ataukah salah
Sehingga terlena oleh silaunya fatamorgana dunia
Omahcilik 14102014

Senin, 06 Oktober 2014

Berkecamuk



Klunting… klunting … klunting …

Terdengar ada BBM masuk.  Sejam lalu, handphone produk cina tersebut tak berbunyi. Entah, angin dari mana tiba – tiba terdengar khas nada dering yang tak asing tiap hari. Tangan yang lekang tadi secepat kilat menyambar Hp tersebut yang berada di meja. Dibukanya dengan penasaran.

 Mungkin kamu adalah kisahku. Dalam perjalanan waktu yang aku, kau buru dengan harapanmu. Kau menjelma menjadi kembara. Kau kah itu? Kembara yang dulu pernah singgah. Dan pertama untuk dapat mengenalku. Oh, iya… Ternyata benar. Kau, Kembara itu. Kau pula kembara yang tiap saat, menyuguhkan syair untukku. Kata – kata indah yang kau ambil dari surga, terangkai sahdu. Namun sayang, waktu telah menundukkanmu. Dan perlu kau tahu, nantinya diperjalanan hidupmu tak ada aku. Karna bukan takdirmu untuk memilikiku.

Sungguh kesalahan apa yang telah Aku dapati pada saat itu. Tak ku sangka rembulan yang bersinar terang padam seketika. Taburan bintang buyar berlarian dan menghilang. Seakaan gelap gulita tanpa penerangan sedikit pun. Tuhan entah ke mana? Cuma Aku sendiri dengan nestapa.

“ Dasar Kau, fuck !!! “ , teriakku.
“ Sudahlah. Jangan kau sesali yang tlah terjadi, mungkin ia benar.” Batinku meredam amarah yang membuncah.
“ Kau tak mengerti !” 
(melempar kursi)
Glontiang… pyarrr …
“ Heh… apa-apan kau ini !” Tanya ibuku.

Pergi, tanpa menghiraukan perkataan orang tuaku. Dosa atau tidak, tak peduli dipikiran yang lagi berkecamuk.
Semua telah pergi. Malam yang tadinya girang, kini murung. Hadirnya angin ku hiraukan begitu saja tanpa dirasakan. Langit terlihat runtuh dan jatuh menimpaku. Biarkan ! tak peduli ku mati atau hidup. Rasanya hidup ini pengap. Oksigen tlah habis oleh kekecewaan.
Ade kini membuang muka, tinggal masam. Mulanya manis dengan senyum yang khas tipis. Kejadian itu yang ada dalam BBM membuatnya terpukul. Ia tak lagi riang. Kesedihanya yang membuatnya seperti itu. Apalagi dirinya juga belum usai dengan cerita masa silam. Cerita masa silam bukan ia yang di tinggal pergi. Melainkan dirinya sendiri yang memilih pergi. Dan didapati, bahwa wanita masa lalunya sudah ingin bersinggah kepelaminan. Tidak bisa dibayangkan perasaanya saat itu. Tuhan memang adil, yang dulu pernah memberi rasa sakit. Sekarang dirinya diberikan rasa itu.

Klunting… klunting… klunting …

(Diacuhkannya)
Beberapa kali nada dering berbunyi, masih tetap tak peduli. Enggan untuk dibaca.
“ Apa yang kamu pikirkan? Sendirian di teras sambil memandang langit.”
(bengong)
“Heh…!!!” teriak orang berkulit hitam.
“ Sialan loe…! Apa yang kamu inginkan, untuk datang kemari?”
“ Idihhhh… marah, sewot amat loe.”
Pulo sahabat sejatinya, dibentak keras. Ia pun terdiam. Tanpa ada sepatah kata dari mulut Pulo yang keluar. Sepertinnya, Ade sudah kesurupan. Di dalam tubuhnya kayak ada binatang buas, yang kapan pun siap menerkam. Mata yang penuh kebencian dihadangkan ke muka Pulo. Keringat dingin pun keluar. Membayangkan berdiri di depan singa lapar. Lari ke mana pun tetap mati. Seperti sudah ditakdirkan untuk mati dimakan singa lapar.
            “Kawan, sabar.”
            “ Sabar gimana lagi, Pul!”
            “ ingat… La Tahzan Innallaha Ma’ana.”
            “ Aku tahu itu.”
            “lalu…!”
            “ Disaat seperti ini aku tidak bisa berfikir sehat. Sepertinya Tuhan membiarkan ku”
            Asstagfirullahaladzim. Jangan seperti itu kawan, Tuhan tak akan pergi kemana. Dia bersama kita.
Mendengar yang dikatakan sahabatnya. Aku masih belum bisa lepas dari kesedihan. Fikiran yang masih berkecamuk. Di dalamnya yang penuh dengan beban dan tekanan. Di tambah masa silam dan pesan BBM yang membuat hati gundah. Tapi, apa yang dikatakan Pulo memang cukup benar, tidak mungkin seperti ini terus. Karena Tuhan punya banyak jalan. Dan tidak mungkin diriku ditelantarkan.

Kadang memang masalah itu perlu
Namun, dalam setiap masalah tidak harus diurai dengan perselisihan
Karna Tuhan ada
Tidak akan lari ke mana
Ia ada bersama kita, tepatnya dalam hati
Omah cilik 07102014     

Jumat, 28 Februari 2014

Pelayan rakyat



 Ini yang kau berikan pada kami
Kami adalah orang orang kecil yang tlah terpinggir
Katanya “ pelayanan terbaik untuk kesejahteran”
Buktinya, tak sesuai bayangan
Terus apa yang engkau lontarkan dengan kesejahteraan
Sedang, bawahan mu mengabaikan
Memang, semua  gratis di benak kami
Kenyataanya, gratis dengan pelayanan yang mringis
Inikah pelayan rakyat?
Seenaknya mengatakan kesejahteraan dengan atas nama rakyat
Tapi lihat, rakyat makin melarat dan sekarat
Keparat kalian memang keparat tak lagi mengahrgai rakyat
Omah cilik 0103214

Senin, 24 Februari 2014

Bayangan



Melihat awan yang menggumpal di atas, aku teringat dengan sepotong senyum yang manis. Angin yang tadi ribut sendiri, sekarang mengajak aku pergi. Melintasi padang awang-awang dan mempertemukan aku dengan ingatan. Di sana telah berjejer rimbun masa silam yang makin usang. Di tempat itulah, aku menemukan sepotong senyum manis yang mungkin masih ku rasakan. Dalam benakku berkata, “ siapakah ia? Dengan senyum itu tampak membias manis. Mungkinkah ia, yang lama aku kenal dari pertemuan yang tak aku rencanakan. Ah… tidak lah. Ia sudah lama tak jumpa, tidak mungkin kembali. Tapi, kelihantanya benar, aku tak salah kira. Memang benar dia. Karena senyum semacam itu, Cuma ia yang punya.”  Ternyata angin tadi bermaksud agar aku mengenal kembali dengan dirinya. Akan tetapi, serigala yang ada dalam diriku terlanjur merengkuh dan mencabik-cabikku. Sampai aku tergeletak dengan sisa tenagaku.  Mungkin tak ada lagi harapan kemarin. Karna harapan itu telah aku tutup rapat untuk mengantisipasi, agar tak berubah menjadi ruang kosong.  Dan takutnya akan terisi  duri-duri. Meski dalam tubuhku sudah bersemanyam srigala lapar, dan yang silam kini siap menerkam.
Lambaian dedaunan masih saja menggodaku, seolah mengejekku. Karena aku yang linglung tak mampu mengartikan arti bayang-bayang dari anganku. Burung yang sedang bersiul di rimbun daun pohon, bukan menghibur, melainkan mengejekku. Lalu, siapa yang bisa menghiburku? Aku masih dalam angan yang mempertemukanku dengan bayang-bayang itu.  Dan membumbung  tinggi, hingga tak terlampaui. Entah, berapa jaraknya tidak diketahui.
“engkau dengan bayang-bayang itu adalah  serpisahan cinta yang belum kau kubur lewat kepasrahan”, berkatalah pengelana yang tiba-tiba datang. Seakan dia mengerti keberadaanku slama ini, yang berbaring dengan muka menengadah ke atas.
Tersentak aku yang tadinya menerawang awan, “ apa yang kau maksud dengan serpihan cinta?”
“Sudahlah anak muda, tatapan kosong yang kau lemparkan pada awan telah menagatakannya padaku. Sehingga sudah cukup jelas untuk ku memahamimu.”
Siapakah orang tersebut, darimana ia datang tadi? Tiba-tiba menarikku dari tempat ku, disaat aku diajak angin menyusuri  masa silamku yang usang yaitu ingatan.
“kau pasti bertanya-tanya tentang diriku di sini”
“heh… kamu benar, sebenarnya siapakah bapak ini? Dan kenapa tiba-tiba muncul di dekatku?”
“ kamu gak perlu tau. Yang perlu kamu tahu, aku orang yang memiliki jalan dan kaki ku akan terus berjalan sampai ujung harapan”
Melintas anak-anak kembala di depan. Mengejar  domba-domba yang nakal, karna makan tanaman orang. Aku pun senyum kecil, melihat anak kembala yang marah-marah dengan peliharaannya. Dan pengelana tadi menatap tajam senyumku yang makin layu.
“ada apa, kamu menatapku seperti itu?”
Senyum kecil terlihat diraut wajah yang kering sarat dengan kelelahan. Aku heran dengan bapak ini, begitu banyak yang ia ketahui tentang diriku. Tapi, aku sendiri kebingungan denganya. Kepalaku yang kian berat, ku rebahkan kembali di pohon yang menjulang tinggi. Dan ku saksikan lagi awan-awan putih yang saling berkejar-kejaran di bentangan langit. Anak kembala tadi masih mengahardik domba-dombanya. Dombanya pun enggan beranjak dari tanaman tersebut. Mungkin rasanya lebih enak, ketimbang yang lain, Heee… . Bayangan dengan senyum yang aku ambil dari ingatanku masih terlihat jelas. Bapak tadi masih saja memperhatikan ku, tambah serius. Seakan aku melakukan kesalahan padanya.
“kenapa bapak kok masih melihat ku seperti itu?”
Senyum itu masih saja dilontarkan.
“ada yang salah dengaku?”
“kamu tahu gak, domba yang disebrang sana? Domba itu adalah barang berharga si pengembala. Andaikan hilang, anak itu pasti terbayang. Dan ia juga akan merasakan kesedihan.”
“terus apa hubungannya dengan diriku?”
“kesedihanmu adalah kekosongan yang  berbalut harapan. Tadi, kamu adalah serpihan cinta yang belum mampu merasakan dan mengartikan dalam kehidupan, dan cuma bayang-bayang . Cobalah pasrah dari kehendakNya, karna Dia  mengetahui segalanya.”
Tertunduk lama setelah pengelana memberikan sedikit wejangan. Tapi , wejangan yang sedikit itu menyentuh dalam ke batin yang murung.
Langit di atas belum beranjak pergi meninggalkan ku, yang masih sendiri melintasi angan. Pengelana tua tadi telah keburu pergi, karena alasan masih ada yang ingin ia selesaikan. Bayangan yang ku temukan disaat angin membawaku melintas, masih ada dan belum beranjak pergi. Dan aku mulai menata ingatanku akan bayang-bayang. Lenyapnya pengembala dan pengelana dari pandanganku, baru ku sadari dan mengerti sederet dari penggelan-pengelan kisah tadi. Ternyata bayangan yang aku ambil disaat  melintasi di ingatan bersama angin. Telah terpecahkan, dan  itulah bayangan yang benar seperti yang aku duga. Bayangan yang dari cahaya memberikan arah menuju rasa setelah pertemuan yang tak disengaja. Dan samar-samar bahkan hampir hilang, ketika aku temukan pergi dengan waktu.
Bayangbayang
Dari cahaya yang memiliki rasa
Aku sadari setelah ku menemukan mu di antara remangremang
Hidupku yang mungkin usang karna masa silam
Dan kamu memberikan kembali yang aku pernah miliki
Omahcilik 25022014

Kamis, 20 Februari 2014

arti hidup



Tempat yang tak ku kenal
Aku didalamnya
Tempat  sarat kesunyian, dan sepi
Serasa aku dalam ilusi
Tempat apakah ini?
Asing…
Aku tak mampu mengenal lebih dalam
Tempat ini
Tuhan
Aku berada ditempat yang seperti apa
Aku sendiri beleum mengerti keberadaanku
Asing bagiku,
Mengenal lingkungan yang tak aku kenal
Ajari lah aku, Tuhan
Membaca, seperti Kau mengajari anak kecil mengenal tulisan
Meski bersabar
Ajari juga merasakan, begitu halnya kayak Adam dengan Hawa
Yang akhirnya bersama
Dan tak lupa aku juga ajari untuk dapat mengartikan bahasaMu
Agar nanti aku mampu mengenal saudaraku
Ajarilah…
Biar nanti aku mampu berbicara, merasakan, dan mengartikan kehidupan
Dan aku mampu mengenal tempat dan keberadaanku lebih dalam
Omahcilik2102214