Perempuan…
Kemuliaan yang perlu dijaga
Bertahtakan mahkota surga
Jiwa yang bening, sebening embun pagi
Kelembutan hati yang dimiliki mampu meneduhkan lelaki
Begitulah kaum perempuan yang
Tuhan berikan. Setiap mata telanjang
lelaki tidak bisa berhenti untuk memandang. Sungguh karya seni yang indah.
Membayangkan saja hati merasa nyaman. Apalagi nanti kalau sudah memiliki.
Seniman mana yang dapat meciptakan keindahan berupa perempuan. Tidak ada yang
bisa ! kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa.
Keindahan surga memang belum bisa
dibayangkan. Tidak semua makhluk yang sempurna seperti manusia mampu melihat
keindahan surga. Butuh proses panjang untuk sampai pada tujuan yang tidak lain
adalah surga. Proses itu, butuh keimanan yang mana sudah tergaris dalam Al
Qur’an dan hadist . Manusia harus tau itu ! karena tatanan kehidupan sudah
tercatat gamplang di dalam situ.
Selama ini, aku hanya mengenal
dunia agama. Dan kini aku telah kembali ke rumah. Bukan alasan aku gak betah di
pesantren. Justru selama menempa ilmu di Pondok, aku jadi banyak tahu kehidupan
perempuaan menurut pandangan agama. Aku
kembali pulang karena alasan sudah rampung. Untuk itulah orang tuaku menyuruhku
pulang. Alhamdulillah sedikit banyak bekal ilmu yang aku dapatkan
dari ustadzah-ustadzah di pesantren. Dengan bekal ilmu ini lah harapan orang
tuaku, agar aku mampu menjaga diriku sendiri. Karena perempuan dalam islam
adalah kemuliaan dari surga. Atau sebagian keindahan surga yang ada di dunia
dan perlu untuk dijaga. Dan aku ingat,
salah satu ustadzah pernah berpesan kepadaku, “anakku, kelak setelah pulang.
Jagalah, apa yang kamu miliki dari dalam dirimu dengan agamamu. Itu bukan harta
ataukah kecantikan, melainkan hati dan iman.” Dan pula aku teringat ustadzah
Halimah. Ketika itu beliau berkata , “ anak-anakku, wanita sekarang tidak lagi
keindahan surga. Dia sudah lupa, dengan apa yang perlu dihiasinya. Makanya,
perempuan sekarang bukan keindahan surga, cuma keindahan dunia belaka.” Dari deretan pesan-pesan ustadzah, aku merasa
beruntung bisa menjadi salah satu hiasan surga.
Melihat suasana rumah yang cukup
lama aku tinggal, terasa asing lingkungan sekitar. Sewaktu di pesantren, aku
melihat santri-santri mondar mandir membawa kitab mengaji. Dan sekarang cuma
ibu-ibu pada belanja, ataupun sekilas
ada remaja yang bergandengan tangan.
Melihat semua itu, aku jadi teringat sahabatku,namanya Riani, yang telah lama tidak bertemu. Dulu kami
berpisah setelah lulus dari Madrasah Aliyah atau sederajat dengan SMA. Waktu itu, sahabatku bilang kalau dirinya kuliah
di perguruan tinggi yang ternama. Mungkin saat ini dia masih dibangko
perkuliahan. Jadi kangen rasanya.
Aku masih duduk didipan yang
letaknya di beranda depan rumah, tepatnya bawah pohon mangga. Aku tak sendiri
didipan mungil ini, karena ditemani roti dan kopi kesukaan ku waktu masih kecil
dulu. Duduk dan masih melihat suasana depan rumah, sambil mengingat-ingat masa
lalu sebelum ke pesantren. Ternyata, didipan itu banyak kenangan aku dan
sahabatku. Yang masih teringat saat itu, sahabatku menangis karena diputus
kekasihnya. Rasanya geli sendiri mengingat kejadian tersebut. Setelah duduk dan
menjelajahi masa silamku didipan. Aku putuskan berkunjung kerumah sahabatku.
Mungkin Riani ada di rumah dan belum berangkat kuliah. Semoga saja! Bergegas
aku masuk rumah ganti baju dan bersalaman dengan ibu,kebiasaan di pondok kalau
bertemu orang yang dihormati selalu cium tangan. Minta izin ibu untuk pergi
berkunjung ke rumah temanku.
Sepeda buntut yang ada di gudang
aku pungut kembali. “sudah lama aku
tidak bawa sepeda ini”, pikirku. Karena lama aku tinggal sepeda tersebut,
sampai berkarat dan banyak sarang
laba-laba. Orang tuaku tidak sempat merawat sepedaku, sebab faktor kesibukan.
Aku gayuh pelan-pelan sepeda butut, dan akhirnya tiba di rumah Riani. Memang
jarak rumahku dengan Riani tidak cukup jauh, kurang lebih satu kilometer.
Perasaan dag dig dug terasa kencang. Mungkin ini efek dari rasa rinduku.
“Assalamualaikum”
Keluar gadis berambut panjang,
tubuh ramping, cuma berpakaian singlet dan celana pendek. “walaikumsalam”
Pikirku,” inikah yang dimaksud
ustadzah. Gadis modern yang hanya mementingkan penampilan.”
Riani bengong melihatku. Hanya
menatap tanpa berkedip sedikitpun. Pikiranya lagi berputar-putar mencoba
mengingatku. Akhirnya selama kurang lebih lima menit, ia mengingat namaku. “
Alifah…?” meski nampak ada keraguan dipikiranya.
“iya, ini aku Rin. Alifah sahabat
kamu.”
“waduh, penampilan mu berubah
Fah. Sekarang kamu tertutup semua, cuma
mukamu saja yang masih terlihat. Bikin pangling” , dengan heran dia mengatakan
itu semua.
“gak gitu juga Rin. Aku masih
Alifah yang dulu. Bedanya iya cuma penampilanku ini saja “, sambil tersenyum
memandang Riani. Lanjut aku bertanya, “eh, kamu gak malu apa dengan pakaian
kayak gitu? Kamu kan perempuan Rin.” Dengan enteng dia menjawab, “idiiihhh,
ngapain harus malu Fah. Inikan trend zaman sekarang. Justru penampilan kayak
kamu gini yang nantinya buat aku malu.” Mendengar jawaban dari sahabatku, aku
diam sebentar. Berfikir bagaimana
sahabatku ini tidak terjerumus dalam kemaksiatan. “Rin, bukannya aku cerewet.
Sebagai sesama muslim aku wajib mengingatkan. Bahwa sebaik-baiknya perempuan
adalah yang mau menutup aurat dan menjaga kehormatanya. Wanita dimata agama itu
mulia. Untuk itu, jaga kemulianmu. Jika nanti kalau kau menginginkan surga.”
Riani cuma diam. Mungkin perkataanku membuatnya berfikir. Tapi, aku belum
melihat wajah yang ingin berubah. Sekali lagi, aku tambahi untuk menyakinkan ia
berubah, “ jika kamu tidak ingin celaka dan terjerumus kemaksiatan. Lakukan
dari hal sederhana menutup auratmu. Laki-laki akan melihatmu karena imanmu
bukan nafsu. Dan apabila kamu terbuka, lelaki emang banyak yang suka. Tapi
sukanya masih tanda Tanya. Dia memang bener suka kamu ataukah bener-bener suka
karena nafsu ingin tubuhmu? Naudzubillah
mindaliq, jangan sampai kehormatanmu terenggut. “ Dan aku pun teringat Kyai pondok pesantrenku
bilang, “ mudah kalau wanita inginkan surga, pertama bila belum menikah jaga
auratmu dengan menutupnya dari kaum adam yang belum mahrom. Dan kedua bila
sudah menikah jaga kehormatanmu dari laki-laki selain suamimu bila di luar
rumah. Dan ikuti perintah suamimu tanpa melawan.” Dibenakku mengatakan,” itulah penjuru surga bagi wanita.” Aku lihat Riani
mulai resah dengan perkataan yang telah ku lontarkan tadi. Lama kelamaan dia
pun berbicara, “ Alifah, apalagi yang kau dapatkan di pondok, selain menutup
aurat?”
Aku menjawab dengan tersenyum, “
banyak, Rin. Tapi, sebelum aku pulang,
ada salah satu ustadzah yang aku sayangi. Dia bilang tentang tiga penjuru surga
yang mudah dilakukan, tapi memang jarang orang melaksanakan. Diantaranya,
wanita yang mau menjaga auratnya dengan menutupi pakaian seperti yang sudah
ditetapkan dalam Al Qur’an dan Hadist, dan wanita yang mau menjaga kehormatan
untuk suami serta mengikuti perintah suami. Lalu, kita sebagai anak, patuh
terhadap orang tua terutama ibu. Karena ia adalah jembatan menuju surga. Ridlo
Tuhan bergantung ridlo ibu.”
“kau pandai, Alifah. Memang
selama ini banyak laki-laki melirikku bukan karena aku. Melainkan tubuhku yang
telanjang ini”, menengadah ke langit. “ aku pun merasa sering membangkang oran
tuaku” , lanjutnya. Dan ia bertanya lagi, “ berarti kalau perempuan menutup
semua auratnya tidak akan tampil trendy di masa kini?”
“di mata Allah bukanlah
penampilan. Melainkan takaran iman yang dimiliki hambanya. Dan trendy kan tidak harus membuka, banyak cara lain
untuk menampilkan keindahan.”
Ustadzahku memang benar, kalau
wanita akan lebih mudah tergoda apabila ia tak mampu menjaga mutiara dalam hatinya.
Dan mutiara akan mahal harganya apabila bercahaya.
Surga sudah dulu tersedia
Tinggal dari mana kita melangkah untuk sampai pada surga
Kebodohan kita yang menjadikan
buta
Tidak tau mana benar ataukah salah
Sehingga terlena oleh silaunya fatamorgana dunia
Omahcilik 14102014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar