perjalanan diriku

PERJALANAN DIRIKU

Setapak demi setapak aku berjalan

Arah ke arah aku telusuri

Tahun, bulan, minggu, hari

Terus aku cari

Jiwaku yang pergi

Tak kunjung kembali

Ntah bagaimana ku harus dapatkan kembali

Meskipun kerikil slalu saja menghadang

Tapi raga ini tetap tegar

Ntuk cari jiwaku yang hilang

Tuhan

Kenapa kau diam

Saat perjalananku

Ketika angin menghentikanku

Engkau sangaja membiarkan diriku

Tersesat dalam duniaMu

Tapi aku kan tetap berpegang dalam taliMu

Saat perjalanan mencari jiwaku

Medoho 04012011

Jumat, 28 Februari 2014

Pelayan rakyat



 Ini yang kau berikan pada kami
Kami adalah orang orang kecil yang tlah terpinggir
Katanya “ pelayanan terbaik untuk kesejahteran”
Buktinya, tak sesuai bayangan
Terus apa yang engkau lontarkan dengan kesejahteraan
Sedang, bawahan mu mengabaikan
Memang, semua  gratis di benak kami
Kenyataanya, gratis dengan pelayanan yang mringis
Inikah pelayan rakyat?
Seenaknya mengatakan kesejahteraan dengan atas nama rakyat
Tapi lihat, rakyat makin melarat dan sekarat
Keparat kalian memang keparat tak lagi mengahrgai rakyat
Omah cilik 0103214

Senin, 24 Februari 2014

Bayangan



Melihat awan yang menggumpal di atas, aku teringat dengan sepotong senyum yang manis. Angin yang tadi ribut sendiri, sekarang mengajak aku pergi. Melintasi padang awang-awang dan mempertemukan aku dengan ingatan. Di sana telah berjejer rimbun masa silam yang makin usang. Di tempat itulah, aku menemukan sepotong senyum manis yang mungkin masih ku rasakan. Dalam benakku berkata, “ siapakah ia? Dengan senyum itu tampak membias manis. Mungkinkah ia, yang lama aku kenal dari pertemuan yang tak aku rencanakan. Ah… tidak lah. Ia sudah lama tak jumpa, tidak mungkin kembali. Tapi, kelihantanya benar, aku tak salah kira. Memang benar dia. Karena senyum semacam itu, Cuma ia yang punya.”  Ternyata angin tadi bermaksud agar aku mengenal kembali dengan dirinya. Akan tetapi, serigala yang ada dalam diriku terlanjur merengkuh dan mencabik-cabikku. Sampai aku tergeletak dengan sisa tenagaku.  Mungkin tak ada lagi harapan kemarin. Karna harapan itu telah aku tutup rapat untuk mengantisipasi, agar tak berubah menjadi ruang kosong.  Dan takutnya akan terisi  duri-duri. Meski dalam tubuhku sudah bersemanyam srigala lapar, dan yang silam kini siap menerkam.
Lambaian dedaunan masih saja menggodaku, seolah mengejekku. Karena aku yang linglung tak mampu mengartikan arti bayang-bayang dari anganku. Burung yang sedang bersiul di rimbun daun pohon, bukan menghibur, melainkan mengejekku. Lalu, siapa yang bisa menghiburku? Aku masih dalam angan yang mempertemukanku dengan bayang-bayang itu.  Dan membumbung  tinggi, hingga tak terlampaui. Entah, berapa jaraknya tidak diketahui.
“engkau dengan bayang-bayang itu adalah  serpisahan cinta yang belum kau kubur lewat kepasrahan”, berkatalah pengelana yang tiba-tiba datang. Seakan dia mengerti keberadaanku slama ini, yang berbaring dengan muka menengadah ke atas.
Tersentak aku yang tadinya menerawang awan, “ apa yang kau maksud dengan serpihan cinta?”
“Sudahlah anak muda, tatapan kosong yang kau lemparkan pada awan telah menagatakannya padaku. Sehingga sudah cukup jelas untuk ku memahamimu.”
Siapakah orang tersebut, darimana ia datang tadi? Tiba-tiba menarikku dari tempat ku, disaat aku diajak angin menyusuri  masa silamku yang usang yaitu ingatan.
“kau pasti bertanya-tanya tentang diriku di sini”
“heh… kamu benar, sebenarnya siapakah bapak ini? Dan kenapa tiba-tiba muncul di dekatku?”
“ kamu gak perlu tau. Yang perlu kamu tahu, aku orang yang memiliki jalan dan kaki ku akan terus berjalan sampai ujung harapan”
Melintas anak-anak kembala di depan. Mengejar  domba-domba yang nakal, karna makan tanaman orang. Aku pun senyum kecil, melihat anak kembala yang marah-marah dengan peliharaannya. Dan pengelana tadi menatap tajam senyumku yang makin layu.
“ada apa, kamu menatapku seperti itu?”
Senyum kecil terlihat diraut wajah yang kering sarat dengan kelelahan. Aku heran dengan bapak ini, begitu banyak yang ia ketahui tentang diriku. Tapi, aku sendiri kebingungan denganya. Kepalaku yang kian berat, ku rebahkan kembali di pohon yang menjulang tinggi. Dan ku saksikan lagi awan-awan putih yang saling berkejar-kejaran di bentangan langit. Anak kembala tadi masih mengahardik domba-dombanya. Dombanya pun enggan beranjak dari tanaman tersebut. Mungkin rasanya lebih enak, ketimbang yang lain, Heee… . Bayangan dengan senyum yang aku ambil dari ingatanku masih terlihat jelas. Bapak tadi masih saja memperhatikan ku, tambah serius. Seakan aku melakukan kesalahan padanya.
“kenapa bapak kok masih melihat ku seperti itu?”
Senyum itu masih saja dilontarkan.
“ada yang salah dengaku?”
“kamu tahu gak, domba yang disebrang sana? Domba itu adalah barang berharga si pengembala. Andaikan hilang, anak itu pasti terbayang. Dan ia juga akan merasakan kesedihan.”
“terus apa hubungannya dengan diriku?”
“kesedihanmu adalah kekosongan yang  berbalut harapan. Tadi, kamu adalah serpihan cinta yang belum mampu merasakan dan mengartikan dalam kehidupan, dan cuma bayang-bayang . Cobalah pasrah dari kehendakNya, karna Dia  mengetahui segalanya.”
Tertunduk lama setelah pengelana memberikan sedikit wejangan. Tapi , wejangan yang sedikit itu menyentuh dalam ke batin yang murung.
Langit di atas belum beranjak pergi meninggalkan ku, yang masih sendiri melintasi angan. Pengelana tua tadi telah keburu pergi, karena alasan masih ada yang ingin ia selesaikan. Bayangan yang ku temukan disaat angin membawaku melintas, masih ada dan belum beranjak pergi. Dan aku mulai menata ingatanku akan bayang-bayang. Lenyapnya pengembala dan pengelana dari pandanganku, baru ku sadari dan mengerti sederet dari penggelan-pengelan kisah tadi. Ternyata bayangan yang aku ambil disaat  melintasi di ingatan bersama angin. Telah terpecahkan, dan  itulah bayangan yang benar seperti yang aku duga. Bayangan yang dari cahaya memberikan arah menuju rasa setelah pertemuan yang tak disengaja. Dan samar-samar bahkan hampir hilang, ketika aku temukan pergi dengan waktu.
Bayangbayang
Dari cahaya yang memiliki rasa
Aku sadari setelah ku menemukan mu di antara remangremang
Hidupku yang mungkin usang karna masa silam
Dan kamu memberikan kembali yang aku pernah miliki
Omahcilik 25022014

Kamis, 20 Februari 2014

arti hidup



Tempat yang tak ku kenal
Aku didalamnya
Tempat  sarat kesunyian, dan sepi
Serasa aku dalam ilusi
Tempat apakah ini?
Asing…
Aku tak mampu mengenal lebih dalam
Tempat ini
Tuhan
Aku berada ditempat yang seperti apa
Aku sendiri beleum mengerti keberadaanku
Asing bagiku,
Mengenal lingkungan yang tak aku kenal
Ajari lah aku, Tuhan
Membaca, seperti Kau mengajari anak kecil mengenal tulisan
Meski bersabar
Ajari juga merasakan, begitu halnya kayak Adam dengan Hawa
Yang akhirnya bersama
Dan tak lupa aku juga ajari untuk dapat mengartikan bahasaMu
Agar nanti aku mampu mengenal saudaraku
Ajarilah…
Biar nanti aku mampu berbicara, merasakan, dan mengartikan kehidupan
Dan aku mampu mengenal tempat dan keberadaanku lebih dalam
Omahcilik2102214  

Rabu, 12 Februari 2014

Sisi lain, Aku


 
Orangorang tlah mengenalku
Aku saja belum mengenal,  siapa aku?
Mungkin mereka hanya tahu dari satu sisi
Sisi yang telah menghadirkan aku di sini
duniaMu
Terus...
Dimana sisi sisi ku yang lain?
Sisi yang merupakan kehidupanku yang masih terpendam
Keberadaan yang bikin aku melayang
Dan dari sisi itu lah yang buat aku kualahan mencari, agar aku dapat bertahan
Di roda kehidupan
Tuhan...
Berikan lah, aku sedikit uraian untuk menyikap tabir
Di dalam setiap sisiku
Dan jangan biarkan waktu terus berlari
Ketika aku belum temukan sisi ku yang lain
Karena waktu adalah kunci untuk membuka
Pintu tabir kehidupan
Dan dari waktu pula, aku
Temukan sisi lain diriku
Omah cilik 19032013