perjalanan diriku

PERJALANAN DIRIKU

Setapak demi setapak aku berjalan

Arah ke arah aku telusuri

Tahun, bulan, minggu, hari

Terus aku cari

Jiwaku yang pergi

Tak kunjung kembali

Ntah bagaimana ku harus dapatkan kembali

Meskipun kerikil slalu saja menghadang

Tapi raga ini tetap tegar

Ntuk cari jiwaku yang hilang

Tuhan

Kenapa kau diam

Saat perjalananku

Ketika angin menghentikanku

Engkau sangaja membiarkan diriku

Tersesat dalam duniaMu

Tapi aku kan tetap berpegang dalam taliMu

Saat perjalanan mencari jiwaku

Medoho 04012011

Minggu, 05 November 2017

Gadis masa silam

Mampir sebentar
diriuk kesibukan yang gak mau tenana
kau datang, menawarkan paras ayumu
yang jalang
sedikit mempesona memang
sayang, kelaminmu kau jajakan
sehingga pesonamu terhalang
tak sedikit lelaki gersang
kegirangan
kayak bayi yang disusui
melihatmu begitu kasihan
kala, kau anggun dengan tudung biru, pipi
merah ranum
tertarik memang, menjadi
hal wajar
sekarang telah ku urungkan untuk menidurimu
karna hasrat tak lagi ada
apalagi cinta
seakan hilang bersama angin siang
Sambung 05102017

Rabu, 25 Oktober 2017

Hanya kisah usang
tercecer antara daun kering yang telah
berlalu
kemarau; angin kering yang sedu
menggiring awan kelabu
tertawa dengan isak tangis
mengantar jasad pada sore itu
hanya antara aku dan kau
berlari dan menari; dulu
sedang sekarang temaram malam yang
kelam
berselimut kalut
dan pecah berubah rindu
Omahcilik26102017
Cika, tak sengaja orang menyebut mu
merah jambu pada lesung pipimu
belum bisa ku kenal saat bertemu
mengendap ngendap nakal, mata membidik
melepas bayangbayang
ke angan
dengan lirih pada bulan ku
berkata,"benarkah ia?  atau mungkin
tidak?"
entahlah!
karena bukan pilihan
cika, namamukah itu?
ku abadikan dengan alunan bait
merdu
OC26102017
Jiwa; ruh  yang bermuara  dalam raga
berseru
mengundang kehidupan yang kering
keronta
terpuruk dikeadaan yang nyata
Tuhan tak pernah alpa
dari tugastugasNya
seperti biasa, sabarlah yang ku kenakan
kehidupan buta
tak pernah mengerti rasa ataupun cinta
hanya hasrat belaka
OC26102107
Kehidupan kematian beriringan
mentari bersama dalam jiwa
dan pemiliknya tak pernah menghiraukan
yang didapati hanya sepotong nyawa yang
dibawa
selebihnya pasrahNya
meskipun begitu, ada juga lepas tanpa
mengenalNya
ialah yang sering ku kenal didunia
sekarang
OC26102017
Rebah; enyah sgala yang ada disekitar
penat yang berputar putar
kondisi mendidih dan perih
aku tak tau lagi
haruskah mati atau berpura pura mati
ruang kosong hanya seberkas benci
dan aku hanya bisa menutup diri
tidak lah mati saja!
OC26102017

Kamis, 21 Mei 2015

Ia Bukan Jodohku



Seakan kehidupan ini tak berpihak padaku. Ia telah berpaling. Awalnya aku yakin kehidupan ini akan memberiku nafas baru untuk masa depan yang berwarna. Tapi, kenyataan sudah mengkhianatiku. Aku tak bisa percaya lagi. Tuhan dimana kah, Kau sekarang ? Aku lumpuh saat ini. Tuntunlah aku ! Apa kau memang membiarkan hambamu terkapar dengan ribuan belati, menusuk . Akan kah Kau biarkan aku seperti ini !
Raut wajah ku mulai lelah. Tuhan mungkin sibuk ataukah memang membiarkan diriku tersiksa oleh kekecewaan.  Sakit memang di dalam tubuhku. Gimana lagi, yang tau dalam jiwaku cuma Tuhan. Sedang Tuhan tak tau kemana, disaat aku mencari.
Wajar lah bila sore ini, awan keemasan berubah muram. Mungkin ia tau, apa yang aku rasakan. Burung pun cuma lewat tak lagi mau menyapa. Apalagi angin, tak sehangat kemarin.  Ah, memang keparat alang – alang yang dari tadi meledekku. Apa ia tidak sadar kalau perasaanku   teriris belati. Kalau saja aku bawa korek, ku bakar pastinya. Biar tau rasanya panas api, karena dikhianati.
Rasanya ingin enyah saja dari muka bumi. Tapi aku sadar, bukan jalan terbaik untuk bunuh diri. Memang saat ini pengap rasanya.  Dada sesak untuk  bernafas, tekanan darah meningkat, dan tubuh lemas.
Aku pun melangkah mendekati dipan yang tak berpenghuni di depan rumah.  Kakiku tergopoh – gopoh ku paksa untuk berjalan. Dan lesu diraut wajahku melengkapi penderitaan yang enggan pergi. Sampainya di dipan ku rebahkan tubuh yang tak ada lagi daya. Sambil aku menengadah ke atas. Aku lihat awan masih muram.  Langit pun mulai lelah, tadinya terang dan berubah temaram. Burung pun terlelap di sarang, digantikan kelelawar.  Dan aku masih terdiam di dipan bersama bayang-bayang. Batinku menangis ketika itu. Orang disekitar tak mendengar. Cuma aku melihat ada se ekor kucing yang bengong menatapku dengan heran. Iya! se ekor kucing. Apa mungkin ia tahu isi hatiku?  Tatapannya yang aneh seakan memberiku isyarat. Tapi, apa yang ingin dikatakanya? Paling meang meong minta ikan. Ah… tau lah aku tak begitu memperhatikannya. Beban pikiranku terlalu berat.  Dan aku tidak mau menambah beban pikiran lagi dengan  datangnya kucing tadi. Biarkan sejenak tubuh kecil ini rebah di dipan yang terbuat dari bambu. Serta mendengarkan gemericik air di kolam ikan yang berada di sebelah. 
Biarpun tubuh kecilku rebah. Namun, pikiranku tak mau diam. Kebayang-bayang selalu wajah polos yang terlihat lugu. Apalagi senyum yang tak mau lepas. Ditambah batin ini mengajakku ke alam yang belum aku kenal. Di dalamnya terisi serpihan kenangan. Dan aku dibawanya kembali ke masa silam. Aku tidak mengerti apa yang ingin ditunjukan batinku dengan tempat itu. Pastinya ada yang ingin ditujukan padaku.  Dan ia mulai mengatakan sesuatu, “ lihat, ini semua adalah kenanganmu ! Memang kenangan ialah perjalanan emosional yang mungkin susah untuk dilupakan. Perasaan bahagia, kasih sayang, sedih, kecewa,  bahkan menderita, semua tertuang dalam kenangan. Tapi itu sudah usang !”
“ Aku mengerti. Lantas apa yang ingin kau tunjukan?” Ia tak menjawab. Heran, dengan sikap batinku yang telah mengajakku kembali ke masa lalu. Pikirku ia akan mengatakan sesuatu agar hidupku tenang tanpa beban. Ternyata cuma harapan kosong.
Aku masih berbaring di dipan. Orang berlalu lalang tak jelas apa yang mereka kerjakan. Dan terliahat ada anak kecil bermain layang-layang. Di ulurnya benang yang terpasang layangan. Lepas melayang di awang-awang. Dia tak peduli kegelapan telah merenggut mentari. Meski gelap, ia masih asyik bermain layang-layang. Serasa senang perasaan anak itu, tanpa ada beban yang membelenggu. Misal hatiku seperti anak itu, bebas tanpa ada tekanan. Mungkin saat ini sayap-sayapku juga mekar dan terbang seperti layang-layang. Tapi sayang, sayapku telah patah. Aku coba mengeparkan tak mampu. Apalagi untuk terbang, pasti jatuh. Memang diriku tak seberuntung anak itu.
Di lain sisi aku lihat kawan anak kecil itu menghampiri. Seorang gadis kecil, rambut terurai panjang, dengan senyum yang terlihat lesung pipi menambah sensasi manis pada wajahnya. Berjalan perlahan mendekati anak lelaki yang bermain layang-layang. Kedua tanganya membawa air minum dan sebungkus roti. Sungguh pemandangan yang membuat diriku iri. Dan terbanyang, “ andai saja kedua anak itu adalah aku.” Lalu, ku buyarkan pandanganku dari anak itu. Takutnya rasa kecewa ini makin liar di dalam tubuhku. Sehingga tidak dapat terkendali dan akhirnya aku mati dengan perasaan sakit hati.
Terasa lambat waktu ini berjalan. Dari tadi tidak berubah ataukah memang waktu ini berhenti. Aku dengan jiwaku yang kian rapuh, karena pengkhianatan. Seakan putus asa dan tak tahan. Ingin rasanya menenggak racun, agar tertidur selamanya. Namun, niatan buruk tersebut bisa aku tepis. Selanjutnya aku kembali murung. Selang beberapa detik, aku dikejutkan dengan suara yang tidak tau dari mana asalnya. Mencoba menelusuri suara itu berasal. Aku dengar begitu lirih, dan mengatakan, “ kemarilah, akan ku bawa kau pada kekasihmu.” Pikirku tak percaya, aku akan bisa kembali pada kekasihku. Karena ia sudah bahagia, tanpa aku. Aku makin penasaran, ingin tahu suara itu berasal. Ke dua telinga aku pasang baik-baik, ku acuhkan sekitarku. Fokus dengan suara berasal. Ternyata baru ku sadari, ia adalah sisi lain diriku. Selama ini ia diam dan memperhatikan. Tapi yang bikin aku heran. Apa mungkin ia mampu mengembalikan kekasihku pada pelukan ? Semisal dia bisa, aku senang.
“ Bodoh !!!” Aku tersentak ada suara lainnya.
“ Siapa kamu?”
“ Aku adalah batin yang tadi mengajakmu kembali pada masa silam”
“ Apa yang kamu inginkan kembali dari diriku? Setelah kamu pergi dan diam tanpa menjawab pertanyaanku tadi. Bukan kah bagus bila aku kembali pada kekasihku !” Diriku yang lain pun menambahi, “ emang pantas kamu kembali pada kekasihmu. Selama ini ia tak pernah menyakitimu. Memang baru kali ini kekasihmu pindah kelain hati. Itu pun bukan salahnya. Juga bukan salah kamu. Ini soal jarak yang membuat renggang hubungan kalian. Jadi tidak usah merasa disakiti. “
“ Apa, tidak pernah menyakiti? Lalu, keadaan sekarang kau anggap apa?” Bentak batinku. “ Aku anggap itu hal yang wajar. Di manapun pasangan yang terbentang jarak pasti banyak cobaan. Semua bergantung dari pribadi masing-masing,” sahutnya. “ Kau memang tak punya perasaan. Hal seperti itu kau anggap wajar.” Sedang aku hanya terdiam mendengar mereka saling lempar argument. Entah, pendapat siapa yang harus ku ambil. Sisi lainku cukup benar, kalau kekasihku meninggalkan karena jarak yang cukup jauh telah menjadi penghalang. Mungkin itu alasannya dia memilih putus. Tapi yang dikatakan batinku juga ada benarnya.  Bahwa kekasihku telah menyakitiku. Buktinya, aku merasa sakit hati karenanya. Lalu, perkataan mana yang harus aku ikuti. Agar aku bisa lepas dari penyiksaan ini.
Diantara persengitan mereka berdua, aku malah makin resah dan tak terarah. Sebenarnya yang ku butuhkan jalan keluar, bukan perdebatan yang bikin runyam. Aku mulai merasakan lelah, meski tubuhku masih terbaring di atas dipan. Secangkir teh yang sudah tak hangat lagi, ku minum. Berharap bisa menenangkan perasaanku yang tidak karuan. Karena ku pernah dengar, jika air teh akan menetralisir perasaan yang stres. Dan memberikan kenyamanan. Benar atau salah aku pun tidak tahu. Tapi, apa salahnya dicoba. Belum habis teh yang ku minum. Mereka masih berdebat dengan persepsi masing-masing. Dimana sisi lain diriku bersikukuh ingin mempertahankan hubunganku dengan kekasihku. Dilain pihak batinku menolak.
“ Hai diriku, jikalau kau masih ingin kembali dengan kekasihmu, berarti kau tolol !”
Sisi lainku menepis, “ jangan dengarkan ia, sahabatku ! Aku tahu kamu masih sayang dia.” Dan batinku kembali mengatakan, “ ingatkah kamu, ketika dirimu aku ajak kembali ke masa lalu? Sebenarnya aku ingin memperlihatkan padamu, bahwa kenangan itu indah. Tapi, kau tidak perlu berlarut-larut dalam kenangan itu sendiri. Dan juga aku tidak melarang kamu melupakan kenangan. Kanapa pada saat itu aku diam, dan tidak menjawab pertanyaanmu? ”
“ Kenapa?” tanyaku dengan penasaran.
“ Ku biarkan kamu melihatnya sebentar, setelah itu tatap lah masa depan ! ”
“ Lantas apa yang ada di dalam masa depan? ” Masih penasaran. Dan batinku menjelaskan, “ kau tak mungkin bisa hidup dengan masa lalumu. Nantinya kau akan hidup di masa depan. Dan kenangan itu lah yang menjadi pelajaran.” Tiba-tiba sisi lain diriku mengelak, “ bohong, kau tak perlu meninggalkan kenanganmu. Kalau kau masih suka dengan kekasihmu. Buka kembali kenanganmu dan intropeksi dari kesalahanmu. Dan apabila kamu sudah yakin akan cintamu. Kejarlah kekasihmu, mulai lah menata kembali cintamu.”
“ Apa kamu yakin, kekasihmu bisa kembali? “ sahut batinku.
“ Sudahlah sahabatku, yakin pada hatimu. Tuhan sudah pernah bilang, bila kamu mau usaha sungguh-sungguh untuk mendapatkan cintamu kembali. Kau akan mendapatkan hasilnya yang terbaik. Jadi tidak usah ragu !”
“ Wahai diriku, kau tak perlu mengejarnya kembali. Sudah terlalu sakit yang kamu rasakan saat ini. Jadi dia tidak pantas buat kamu.”
“ Sahabatku, … “
“ Sudah diam !” Bentakku pada mereka. Suasana menjadi hening. Tanpa ada suara lagi yang riuh. Cuma iringan melodi sunyi. Tadinya aku yang terdiam dan memperhatikan. Namun, jika aku biarkan  bukan mengurangi, malah menambah beban pikiran. Sejujurnya jiwa ku sudah terlalu tertekan. Aku tak ingin berlama-lama larut dalam kekecewaan. Dan akan ku katakan pada mereka, “ kalian adalah diriku. Pastinya kalian juga merasakan apa yang aku rasakan. Perdebatan kalian bukan menngurangi beban. Malah memberikanku tekanan. Aku telah sadar, bahwa Tuhan tidak lah menghidar, atau pun diam. Bahkan Dia pun tidak membiarkan ku terlantar. Cuma menunggu waktu yang tepat. Agar aku bisa menerima kenyataan, dan belajar darinya. Karena kedewasaan manusia terlahir bukan secara tiba-tiba. Melainkan belajar dari kenyataan. Untuk itu, Tuhan telah menuliskan rencana terbaik buat diriku. Misalkan aku lepas dari kekasihku, berarti dia bukan jodohku.” Seketika lenyap semua dari pandanganku. Dan yang tersisa cuma kucing yang dari tadi memperhatikanku.
Aku terbangun dari dipan. Dan berjalan menghampiri ke dua anak-anak yang masih asyik main layang-layang. Meski langit sudah gelap gulita. Bagi mereka itu semua tidak menjadi penghalang. Meskipun layangannya tidak bisa dipandang, tapi masih bisa dirasakan lewat getaran. Tidak lah menjadi beban, kalau mata mereka tidak bisa melihat layangannya. Karena di dalam diri mereka cuma perasaan senang. Itulah kenyataan ! Tidak peduli bisa lihat atau tidak, yang pasti hanya rasa senang.
Harapan ialah angin yang berhembus, terbang
Dan hilang
Kasih sayang yang belum sempat
Aku sematkan, telah usang
Maaf adalah kata terakhir, untuk hantaran
Keikhlasan
Daun berguguran, tidaklah pertanda
Kematian
Melainkan kehidupan baru
Di masa yang akan datang
Omahcilik 22052015