Melihat awan yang menggumpal di
atas, aku teringat dengan sepotong senyum yang manis. Angin yang tadi ribut
sendiri, sekarang mengajak aku pergi. Melintasi padang awang-awang dan
mempertemukan aku dengan ingatan. Di sana telah berjejer rimbun masa silam yang
makin usang. Di tempat itulah, aku menemukan sepotong senyum manis yang mungkin
masih ku rasakan. Dalam benakku berkata, “ siapakah ia? Dengan senyum itu
tampak membias manis. Mungkinkah ia, yang lama aku kenal dari pertemuan yang
tak aku rencanakan. Ah… tidak lah. Ia sudah lama tak jumpa, tidak mungkin
kembali. Tapi, kelihantanya benar, aku tak salah kira. Memang benar dia. Karena
senyum semacam itu, Cuma ia yang punya.”
Ternyata angin tadi bermaksud agar aku mengenal kembali dengan dirinya.
Akan tetapi, serigala yang ada dalam diriku terlanjur merengkuh dan
mencabik-cabikku. Sampai aku tergeletak dengan sisa tenagaku. Mungkin tak ada lagi harapan kemarin. Karna
harapan itu telah aku tutup rapat untuk mengantisipasi, agar tak berubah menjadi
ruang kosong. Dan takutnya akan
terisi duri-duri. Meski dalam tubuhku
sudah bersemanyam srigala lapar, dan yang silam kini siap menerkam.
Lambaian dedaunan masih saja
menggodaku, seolah mengejekku. Karena aku yang linglung tak mampu mengartikan
arti bayang-bayang dari anganku. Burung yang sedang bersiul di rimbun daun
pohon, bukan menghibur, melainkan mengejekku. Lalu, siapa yang bisa
menghiburku? Aku masih dalam angan yang mempertemukanku dengan bayang-bayang
itu. Dan membumbung tinggi, hingga tak terlampaui. Entah, berapa
jaraknya tidak diketahui.
“engkau dengan bayang-bayang itu
adalah serpisahan cinta yang belum kau
kubur lewat kepasrahan”, berkatalah pengelana yang tiba-tiba datang. Seakan dia
mengerti keberadaanku slama ini, yang berbaring dengan muka menengadah ke atas.
Tersentak aku yang tadinya
menerawang awan, “ apa yang kau maksud dengan serpihan cinta?”
“Sudahlah anak muda, tatapan
kosong yang kau lemparkan pada awan telah menagatakannya padaku. Sehingga sudah
cukup jelas untuk ku memahamimu.”
Siapakah orang tersebut, darimana
ia datang tadi? Tiba-tiba menarikku dari tempat ku, disaat aku diajak angin
menyusuri masa silamku yang usang yaitu
ingatan.
“kau pasti bertanya-tanya tentang
diriku di sini”
“heh… kamu benar, sebenarnya
siapakah bapak ini? Dan kenapa tiba-tiba muncul di dekatku?”
“ kamu gak perlu tau. Yang perlu
kamu tahu, aku orang yang memiliki jalan dan kaki ku akan terus berjalan sampai
ujung harapan”
Melintas anak-anak kembala di
depan. Mengejar domba-domba yang nakal,
karna makan tanaman orang. Aku pun senyum kecil, melihat anak kembala yang
marah-marah dengan peliharaannya. Dan pengelana tadi menatap tajam senyumku
yang makin layu.
“ada apa, kamu menatapku seperti
itu?”
Senyum kecil terlihat diraut
wajah yang kering sarat dengan kelelahan. Aku heran dengan bapak ini, begitu
banyak yang ia ketahui tentang diriku. Tapi, aku sendiri kebingungan denganya. Kepalaku
yang kian berat, ku rebahkan kembali di pohon yang menjulang tinggi. Dan ku
saksikan lagi awan-awan putih yang saling berkejar-kejaran di bentangan langit.
Anak kembala tadi masih mengahardik domba-dombanya. Dombanya pun enggan
beranjak dari tanaman tersebut. Mungkin rasanya lebih enak, ketimbang yang
lain, Heee… . Bayangan dengan senyum yang aku ambil dari ingatanku masih terlihat
jelas. Bapak tadi masih saja memperhatikan ku, tambah serius. Seakan aku
melakukan kesalahan padanya.
“kenapa bapak kok masih melihat
ku seperti itu?”
Senyum itu masih saja
dilontarkan.
“ada yang salah dengaku?”
“kamu tahu gak, domba yang disebrang
sana? Domba itu adalah barang berharga si pengembala. Andaikan hilang, anak itu
pasti terbayang. Dan ia juga akan merasakan kesedihan.”
“terus apa hubungannya dengan
diriku?”
“kesedihanmu adalah kekosongan
yang berbalut harapan. Tadi, kamu adalah
serpihan cinta yang belum mampu merasakan dan mengartikan dalam kehidupan, dan
cuma bayang-bayang . Cobalah pasrah dari kehendakNya, karna Dia mengetahui segalanya.”
Tertunduk lama setelah pengelana
memberikan sedikit wejangan. Tapi , wejangan yang sedikit itu menyentuh dalam
ke batin yang murung.
Langit di atas belum beranjak
pergi meninggalkan ku, yang masih sendiri melintasi angan. Pengelana tua tadi
telah keburu pergi, karena alasan masih ada yang ingin ia selesaikan. Bayangan yang
ku temukan disaat angin membawaku melintas, masih ada dan belum beranjak pergi.
Dan aku mulai menata ingatanku akan bayang-bayang. Lenyapnya pengembala dan
pengelana dari pandanganku, baru ku sadari dan mengerti sederet dari
penggelan-pengelan kisah tadi. Ternyata bayangan yang aku ambil disaat melintasi di ingatan bersama angin. Telah
terpecahkan, dan itulah bayangan yang
benar seperti yang aku duga. Bayangan yang dari cahaya memberikan arah menuju
rasa setelah pertemuan yang tak disengaja. Dan samar-samar bahkan hampir
hilang, ketika aku temukan pergi dengan waktu.
Bayangbayang
Dari cahaya yang memiliki rasa
Aku sadari setelah ku menemukan
mu di antara remangremang
Hidupku yang mungkin usang karna
masa silam
Dan kamu memberikan kembali yang
aku pernah miliki
Omahcilik 25022014
hemmm, wuow,
BalasHapusnpa had...?
Hapusmksh min critanya
BalasHapusmin spa had?
Hapus